MASTITIS

Mastitis adalah peradangan payudara,yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi.Penyakit ini biasanya menyertai laktasi,sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis.
Dari sumber yang lain disebutkan Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus (saluran susu) hingga puting susu pun mengalami sumbatan.
Mastitis yang tidak segera di obati dapat menyebabkan Abses yaitu kumpulan nanah pada payudara
B. Gejala – gejala.
Gejala mastitis dapat berupa:
 Gejala pada payudara.
– Jika sudah terinfeksi payudara akan nyeri jika tertekan
– Hangat dan kemerahan karena adanya pelebaran pembuluh darah.
– Gatal-gatal
– Pengerasan pada payudara, adanya benjolan pada payudara
– Pembengkakan pada payudara
– Keluar nanah dari puting
 Gejala yang menyerupai flu
– Demam hingga lebih dari 38 derajat Celcius
– Pusing
– Mual-muntah
– Penderita merasa kedinginan

Namun,bila mastitis terjadi karena sumbatan tanpa infeksi,biasanya badan tidak terasa nyeri dan tidak demam. Pada payudara juga tidak teraba bagian yang keras dan nyeri, serta merah.

C. Penyebab.
 Puerperal Mastitis
Disebabkan karena adanya sumbatan pada ductus payudara oleh bakteri Staphilococcus aureus yang masuk melalui puting payudara ataupun sobekan/ luka pada payudara. Puerparal mastitis ini biasanya menyerang wanita pasca bersalin hingga 3 bulan selama masa menyusui.
 Non-Puerparal Mastitis
Dalam banyak kasus, Non-Puerperal Mastitis tidak disebabkan oleh inflamasi bakteri, namun dapat disebabkan oleh Hyperprolactinemia, kasus hormon tiroid, merokok, adanya nanah dalam payudara, diabetes dan pengaruh beberapa faktor pengobatan. Dalam keadaan ini, terjadinya resiko perulangan penyakit, abses dan infeksi lanjutan lebih besar daripada puerperal mastiti

D. Faktor Predisposisi.
Faktor Predisposisi terjadinya mastitis:
1. Umur
Sebuah studi retrospektif menunjukan bahwa wanita berumur 21- 35 tahun lebih sering terkena mastitis
2. Paritas.
Primipara mempunyai faktor resiko lebih besar.

3. Serangan sebelumnya.
Pada beberapa studi,terdapat bukti bahwa serangan mastitis cenderung berulang.
4. Melahirkan.
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan resiko mastitis.
5. Gizi.
Antioksidan dari Vit.E,Vit A, dan selenium diketahui mengurangi resiko mastitis.
6. Faktor kekebalan dalam ASI
Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme pertahanan dalam payudara.

E. Penatalaksanaan.
Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu:
 Pemanasan lokal pada payudara, dapat dilakukan dengan pengompresan atau shower air hangat pada daerah yang terasa nyeri.
 Pompa pada payudara untuk mengosongkan payudara
 Terus memberikan ASI pada bayi, hal ini tidak berbahaya bagi bayi.
 Pemberian Antipiretik dan analgesik ringan, misalnya ibuprofen atau acetaminopropen ((Thylenol)
 Minum banyak air
 Istirahat yang cukup
 Pada abses di tangani dengan pembedahan untuk mengeluarkan abses

Jika terjadi abses, bawa penderita ke Rumah Sakit untuk mendapatkan antibiotik intravena, aspirasi atau insisi. Setiap cairan aspirasi dilakukan pemeriksaan histologik untuk menyingkirkan keganasan, dapat pula dilakukan drainase.
F. Pencegahan.
 Pastikan bayi menghisap seluruh ASI dalam satu payudara. Jika tidak habis, gunakan payudara yang sama untuk pemberian ASI selanjutnya
 Berikan ASI secara bergantian dari payudara satu ke payudara yang lain
 Gunakan teknik yang tepat dan bervariasi saat menyusui
 Gunakan bra yang baik dan nyaman
 Jaga kebersihan puting dan payudara
 Biasakan mencuci tangan sebelum dan setelah menyusui

budi rahayu (090104029)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: