“KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN,BIAS GENDER”

“Kekerasan Terhadap Perempuan, Bias Gender”

By : Moneca Diah Listiyaningsih
090104058
Dewasa ini kita menghadapi suatu krisis sosial yang berupa meningkatnya kekerasan terhadap perempuan. Misalnya saja, jika kita saksikan di televisi, seorang ayah yang berani memperkosa anak gadisnya sendiri. Atau suami yang tega menganiaya istrinya. Dan masih banyak lagi kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi belakangan ini.
Kekerasan (violence) adalah serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai sumber. Namun, salah satu kekerasan terhadap satu jenis kelamin, disebabkan oleh anggapan gender. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender-related violence (Fakih, 1996).
Kekerasan terhadap perempuan secara luas berlangsung dimasyarakat sejak dulu hingga kini, dengan korban perempuan dari segala tingkatan dan sosial, sementara pelakunya pun laki-laki dari segala tingkatan: tua, muda, suami, ayah, kakek, anak, teman, kaya, miskin, buruh, majikan, dan lain sebagainya. Meskipun kejahatan ini akan meninggalkan penderitaan dan “luka”- psikis, fisik, dan sosial- yang luar biasa besarnya, namun nampaknya kita kurang bersungguh-sungguh baik dalam menghadapi kejahatan ini maupun dalam menolong korbannya (Susanto, 1997)
Dalam siklus kehidupan manusia kekerasan terhadap perempuan dapat diidentifikasikan dalam 6 fase yakni, sebelum kelahiran, pada saat bayi, pada usia anak, usia remaja, masa reproduksi dan usia tua. Tipe kekerasan pada fase sebelum kelahiran, antara lain: aborsi atas dasar seleksi kelamin (Cina, India, Korea), penganiayaan pada saat hamil, pemaksaan kehamilan seperti perkosaan massal pada saat perang. Pada saat bayi, kekerasan yang terjadi biasanya berupa pembunuhan anak bayi (wanita), perlakuan salah baik emosional dan psikis, perbedaan perlakuan dalam bidang makan dan kesehatan terhadap anak perempuan. Kawin anak, penyunatan, perlakuan seksual baik oleh keluarga maupun orang lain, pelacuran anak, merupakan tipe kekerasan pada usia anak. Kekerasan pada usia remaja berupa kekerasan pada saat percumbuan (date rape), perlakuan seks terpaksa karena tekanan ekonomi, pelecehan seksual ditempat kerja, perkosaan, pelacuran dipaksa dan perdagangan perempuan. Masa reproduksi sering terjadi kekerasan oleh pasangan intim, marital rape, pembunuhan oleh pasangan, perlakuan salah psikis, pelecehan seksual ditempat kerja, perkosaan, kekerasan terhadap perempuan cacat. Dan yang terakhir adalah kekerasan pada usia tua, berupa kekerasan terhadap janda dan orang tua (Muladi, 1997).
Selain itu, kekerasan terhadap perempuan yang utamanya disebabkan oleh bias gender atau dikenal dengan kekerasan gender, menurut Dr. Mansour Fakih, dapat dikategorikan berdasarkan macam dan bentuk kejahatannya, yakni antara lain: pertama, bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk perkosaan dalam perkawinan. Kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domestic violence). Termasuk tindak kekerasan dalam bentuk penyiksaan terhadap anak-anak (child abuse). Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah kepada organ alat kelamin (genital mutilation), misalnya penyunatan terhadap anak perempuan. Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitution). Kelima, kekerasan dalam bentuk pornografi. Jenis kekerasan ini termasuk kekerasan non fisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempuan dimana tubuh perempuan dijadikan obyek demi keuntungan seseorang. Keenam, kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam Keluarga Berencana (enforced sterilization). Ketujuh, adalah jenis kekerasan terselubung (molestation) yakni memegang/menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan dengan berbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan si pemilik tubuh. Kedelapan, tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukan dimasyarakat yakni yang dikenal dengan pelecehan seksual atau sexual and emotional harassment. Bentuk pelecehan seksual itu antara lain:
1. Menyampaikan lelucon jorok secara vulgar pada seseorang dengan cara yang dirasakan sangat ofensif
2. Menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor
3. Menginterogasi seseorang tentang kehidupan/kegiatan seksualnya atau kehidupan pribadinya
4. Meminta imbalan seksual dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau untuk mendapatkan promosi/janji-janjinya
5. Menyentuh atau menyenggol bagian tubuh tanpa ada minat atau tanpa seizing dari yang bersangkutan.
Kekerasan terhadap perempuan yang disebutkan diatas tentu saja berdampak negatif bagi perempuan. Kekerasan menimbulkan rasa malu dan mengintimidasi perempuan; ketakutan akan kekerasan menghalangi banyak perempuan mengambil inisiatif dan mengatur hidup yang akan dipilihnya. Ketakutan terhadap kekerasan merupakan factor kunci yang menghambat perempuan ikut terlibat dalam pembangunan. (Cleves Morsse, 1996). Adapun bentuk hambatan itu antara lain sikap perempuan yang takut untuk menghadapi kelas pemberantasan buta huruf atau untuk bergabung diklinik-klinik kesehatan.
Masalah kekerasan tersebut tentunya tidak akan terhapus begitu saja tanpa adanya usaha untuk menghentikannya. Salah satu akar masalah kekerasan itu adalah konsep gender yang selama ini dipahami oleh masyarakat.
Dalam suatu masyarakat biasanya persoalan tidak akan muncul hanya untuk membedakan apakah seseorang itu perempuan atau laki-laki. Perbedaan ini sudah tegas, karena ia merujuk kepada kategori seksual atau jenis kelamin dari seorang manusia yang punya penis atau vagina. Namun dengan konsep gender yang dimaksudkan lebih dari itu, bahwa apa yang dianggap “khas” laki-laki atau perempuan itu mungkin sangat berbeda (subandi dan suranto, 1998).
Fakih dalam “analisis gender dan transformasi sosial” mendefinisikan konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sedangkan laki-laki dianggap: kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu sendiri merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain.
Melalui proses yang panjang, akhirnya tersosialisasikan bahwa gender tersebut sebagai ketentuan Tuhanseolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi, sehingga perbedaan-perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan. Oleh sebab itu, dewasa ini sering dianggap sebagai “kodrat wanita” adalah konstruksi sosial dan kultural atau gender. Misalnya saja sering diungkapkan bahwa mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah tangga adalah konstruksi kultural dalam suatu masyarakat tertentu.
Dalam hal kekerasan terhadap perempuan, jelas yang harus dipikirkan adalah kondisi masyarakat, yang belum dapat membedakan konsep jenis kelamin (seks) dan konsep gender. Gender bukan harga mati seperti sifat biologis. Akan tetapi dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas ke kelas yang lain. Dari sinilah, bias gender harus kita tanggalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: