Masalah Urogenital Pada Wanita Usia Lanjut

PENDAHULUAN

Kemajuan ilmu pengetahuan bidang kedokteran dan kesehatan, mempunyai pengaruh besar pada usia penduduk dari suatu negara. Pada negara maju seperti Amerika dan beberapa negara Eropa, jumlah penduduk usia lanjut lebih besar daripada jumlah penduduk usia lebih muda, dan jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada laki-laki.
Pada awal tahun 1900an, usia harapan hidup penduduk Amerika 47 tahun, tahun 1980 meningkat menjadi 73 tahun, dan akan terus meningkat bila penyakit kardiovaskular dan kanker dapat dikendalikan, diperkirakan tahun 2020 akan mencapai 85 tahun.
Di negara Asia, ternyata Indonesia mempunyai jumlah penduduk usia lanjut nomor tiga setelah Cina dan India. Tahun 2000 jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan sekitar 15.3 juta atau 7,4%. Usia harapan hidup penduduk Indonesia saat ini untuk laki-laki 62.9 tahun dan wanita 66.3 tahun. Di kota-kota besar usia harapan hidup lebih tinggi dari angka rata-rata nasional tersebut, seperti Jakarta, usia harapan hidup laki-laki 67 tahun, wanita 71 tahun.
Pada wanita usia lanjut, di samping faktor biologi yang berhubungan erat dengan umur, ada faktor lain yang cukup berperan dalam tubuhnya, yaitu berkurangnya atau tidak adanya hormon estrogen endogen. Kedua faktor ini dapat menimbulkan beberapa masalah atau penyakit pada wanita usia lanjut, yang tersering adalah masalah atau penyakit urogenital, kardiovaskular dan pertulangan (osteoporosis).
Diperkirakan, hampir 80% wanita usia lanjut mempunyai masalah urogenital, tetapi prevalensi sulit ditemukan dengan tepat, karena misalnya pada kasus inkontinensia urine, banyak wanita usia lanjut tidak mau atau merasa malu untuk membicarakan masalah itu kepada teman, keluarga atau pada tenaga kesehatan / dokternya. Dan bila masalah urogenital yang timbul pada wanita usia lanjut ini tidak diobati dengan cepat dan tepat, tentu akan menurunkan kualitas hidupnya.
Peranan tenaga kesehatan dan dokter untuk mengetahui masalah urogenital ini, serta meningkatkan pengetahuan masyarakat, sangat menentukan banyaknya wanita usia lanjut yang akan dapat ditolong dari penderitaannya.
Patofisiologi

Organ genital dan saluran kemih wanita secara anatomi maupun asala embriologik, hubungannya dekat sekali. Kedua sistem organ ini sama sensitif terhadap hormon estrogen. Pengaruh penuaan akan menyebabkan terjadinya atrofi pada seluruh organ tubuh, termasuk juga pada organ urogenital.

ORGAN GENITAL

Vagina
Epitel vagina berisi reseptor-reseptor estrogen, terutama lapisan basal dan parabasal, juga sel-sel stroma dan serabut-serabut otot dinding vagina. Karena usia lanjut, maka akan terjadi atrofi dari alat genital, lapisan epitel dan jaringan penyokong menjadi tipis serta vaskularisasinya akan berkurang. Perubahan atrofi organ genital ini akan memperlihatkan perubahan berupa menurunnya maturasi sel-sel epitel serta berkurangnya vaskularisasi dengan cepat dari jaringan sekitarnya, disertai timbulnya fragmentasi-fragmentasi dari jaringan elastin dan hialinisasi dari serabut-serabut kolagen. Sel-sel yang mengandung glikogen berkurang, akibatnya kolonisasi laktobasil akan berkurang, pH vagina akan meningkat, dan kolonisasi bakteri-bakteri patogen seperti E.coli dari feses dan kokus lainnya akan meningkat. Dinding vagina kelihatan tipis dan kering.
Akibat keadaan tersebut, liang vagina menjadi kaku, mengecil dan memendek. Bila ada trauma walaupun sedikit, vagina akan mudah menjadi luka dan timbul perdarahan karena tipisnya, dan luka ini juga akan mudah terinfeksi oleh kuman patogen sehingga terjadi vaginitis yang sering disebut sebagai vaginitis senilis. Infeksi ini dapat meluas ke daerah vulva, sehingga terjadilah vulvovaginitis dengan keluhan perih, panas dan kadang-kadang sakit.
Karena usia lanjut, jaringan penyokong organ-organ genital juga mengalami atrofi. Bila alat penyokong organ-organ ini sudah rusak atau melemah sebelumnya, misalnya karena trauma persalinan atau kelainan bawaan lain, maka pada usia pascamenopause ini akan lebih lemah lagi, menyebabkan terjadinya prolaps organ-organ rongga panggul seperti sistokel, prolaps uteri, rektokel dan sebagainya.
(GAMBAR PROLAPS)

Uterus
Seperti vulva dan vagina, uterus juga akan mengalami atrofi. Kelenjar-kelenjar dan pembuluh darah di sekitar serviks juga akan berkurang, endometrium menjadi tipis. Keadaan ini memicu timbulnya infeksi bakteri dengan mudah, sehingga tak jarang terjadi sevisitis atau endometritis senilis. Pemeriksaan pap smear perlu dilakukan untuk membedakan atau menentukan ada tidaknya keganasan.
Kalau cairan yang keluar bercampur darah atau hanya darah saja, maka tindakan dilatasi / kuretase (D/K) harus dilakukan, dan hasil kuretase harus diperiksa patologi untuk memastikan ada tidaknya keganasan.
ORGAN SALURAN KEMIH (UROLOGI)

Seperti diuraikan di atas, alat genital dan saluran kemih bagian bawah sangat dekat hubungannya. Pada usia lanjut pun, uretra dan kandung kemih juga mengalami atrofi, hal ini disebabkan kurang atau tidak adanya pengaruh hormon estrogen di samping faktor pengaruh usia. Pada wanita usia lanjut / pascamenopause, epitel uretra dan kelenjar serta pembuluh darah, jaringan penyokong sekitarnya juga mengalami atrofi, sehingga lumen uretra akan mengecil, panjang uretra berkurang, muara uretra tertarik ke belakang arah atas vagina, dan dinding uretra menipis. Dengan adanya bakteri patogen di vagina, kemungkinan terjadinya infeksi asendens ke saluran kemih seperti uretritis atau sistitis besar sekali. Dilaporkan angka kejadian infeksi saluran kemih akan meningkat sesudah usia 60 tahun.
Pada wanita usia lanjut juga terjadi atrofi otot-otot dasar panggul dan jaringan penyokong lainnya sekitar uretra, sehingga fungsi sfingter uretra juga terganggu, berupa kelemahan yang dapat menimbulkan stress inkontinensia. Kandung kemih juga mengecil, kapasitasnya berkurang dan lebih sensitif / portabel.
Keluhan yang sering timbul adalah disuria, berkemih dengan meneran, urgensi dan urge / stress inkontinensia. Secara garis besar gangguan berkemih pada wanita usia lanjut dapat digolongkan menjadi 4 kelainan :
Infeksi saluran kemih : berhubungan erat dengan meningkatnya kuman patogen dalam vagina, biasanya disertai keluhan disuria dan poliuria (termasuk nokturia), kadang dengan nyeri suprasimfisis.
Stress inkontinensia : keluarnya urine tanpa disadari atau tanpa dapat dikontrol, bila ada tekanan intraabdominal yang meningkat seperti batuk, bersin, tertawa, berjalan, melompat dan lainnya. Disebabkan melemahnya fungsi sfingter uretra sehingga pada peningkatan tekanan abdominal urine akan keluar, sementara otot kandung kemih sendiri tidak aktif. Ciri khasnya adalah urine yang keluar sedikit, sering kencing, meningkat bila ada aktifitas. Dan malam hari pada waktu tidur umumnya keluhan ini berkurang sampai tidak ada.
Urge inkontinensia : keluarnya urine berhubungan dengan keinginan untuk berkemih, penderita tidak bisa menahan karena kontraksi kandung kemih lebih tinggi dari tahanan uretra. Ciri khasnya adalah urine lebih banyak keluar, dan sesuai dengan kapasitas kandung kemih yang ada. Penderita sering kencing, dan pada malam hari juga sering kencing karena kontraksi kandung kemih akibat perangsangan kapasitas kandung kemih terus menerus. Kejadiannya cukup meningkat pada wanita usia lanjut.
Overflow inkontinensia : keluarnya urine tanpa disadari waktu kandung kemih penuh, dan di sini tekanan intravesikal akan melebihi tahanan uretra tanpa adanya kontraksi otot-otot kanudng kemih. Ciri-ciri khas overflow inkontinensia ini, urine merembes atau menetes karena kandung kemih penuh. Urine akan banyak keluar kalau ada tekanan meningkat. Penderita pun merasa kandung kemih selalu penuh. Kadang sulit membedakan kronik retensio urinae dengan overflow inkontinensia urine. Anamnesis dan pemeriksaan sangat penting untuk membuat diagnosis yang tepat

Dari berbagai uraian tersebut, masalah urogenital yang sering dikeluhkan wanita usia lanjut dapat berupa :
– dari vagina : vagina kering, vagina terasa panasa, pruritus, dispareunia, perdarahan dan prolaps.
– dari saluran kemih : urgensi, frekuensi, disuria, infeksi saluran kemih, inkontiinensia dan kesulitan berkemih.
Diagnostik

Anamnesis cermat dan penuh kesabaran penting, karena sering wanita usia lanjut tidak mau menyampaikan keluhannya karena malu atau menganggap hal tersebut adalah keadaan biasa pada orang tua. Anamnesis diarahkan pada keluhan berkemih maupun keluhan pada alat genital.
Dilakukan pemeriksaan sistematik pada vulva, uretra dan vagina tentang keadaan anatomi, permukaan dan dinding lapisan vagina maupun uretra, ada tidaknya perdarahan atau cairan yang keluar dari vagina atau uretra. Pada keadaan di mana ada cairan kemerahan, apalagi kalau berasal dari kanalis servikalis, perlu dilakukan pemeriksaan sitologi dan perlu dilakukan dilatasi kuretase untuk mengetahui ada tidaknya keganasan.
Kadang diperlukan pemeriksaan sistoskopi untuk mengetahui keadaan dinding atau mukosa uretra / kandung kemih, serta pemeriksaan kultur urine untuk mengetahui ada tidaknya infeksi saluran kemih.
Untuk kasus inkontinensia kadang diperlukan pemeriksaan uroflowmetri, urodinamika dan sebagainya.
Penatalaksanaan

Pada kasus dengan infeksi, diberikan antibiotika, perbaikan gizi disertai vitamin A dan B kompleks, bersama dengan hormon estrogen oral atau lokal. Bila perlu diberikan juga obat analgesik / anti inflamasi.
Pemberian estrogen akan meningkatkan populasi laktobasil dan mengurangi jumlah bakteri-bakteri dari feses. Keadaan ini akan menurunkan kejadian infeksi.
Pada prolaps alat genitalia, bila tidak ada kontraindikasi, pilihan utama adalah rekonstruksi operatif. Bila ada kontraindikasi, penderita ditolong dengan pemasangan pessarium dan pemberian hormon estrogen lokal.
Pada kasus stress inkontinensia, diberikan hormon estrogen dan obat antikolinergik. Pada urge inkontinensia dilakukan juga bladder drill. Pada overflow inkontinensia dilakukan pengosongan kandung kemih dengan kateterisasi serta pemberian obat-obat perangsang kontraksi detrusor kandung kemih.

Bila pengobatan konservatif tidak berhasil, dipertimbangkan untuk operasi.

090104051
Rusminingsih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: